We are your BusinessBuddy in: Managing Change, constructing Strategy Map - Balanced Scorecard, improving Action Plan and Business Model. Call 0816-485-7282 for more information

 

Download: Mengubah organisasi menuju kinerja lebih baikHow to win 2011 , Balanced Scorecard
Workshops:  Service Scorecard - HR Scorecard - Leadership Scorecard 

Konsultasi Interaktif

Statistic

Content View Hits : 24761
Strategi Tetap "Sehat" di Perusahaan yang "Sakit"

Bagaimana perasaan anda jika bertemu teman akrab yang lama tak berjumpa ? Tentunya ada rasa kangen. Alih-alih ingin berbagi cerita saat betemu dengan teman lama, saya terkaget- kaget melihat penampilan fisiknya yang berubah. Bayangkan, dengan rambut semakin memutih, ditambah dengan kacamata yang bertengger di batang hidung, makin lengkaplah sosok ketuaannya. Mengapa hal ini terjadi ? Ternyata menurut pengakuannya : ”Beginilah nasib bekerja di perusahaan yang sakit”.


Lalu apa yang harus kita lakukan agar tetap ”sehat” di perusahaan yang ”sakit” ? Sebagai langkah awal, tanya dan jujurlah pada diri sendiri. Temukan dulu alasan mengapa anda mengganggap perusahaan sedang ”sakit”, karena pengertian ”sakit” bisa karena faktor human-social, seperti kondisi kerja yang tidak mendukung, banyaknya politiking, gossiping terjadi setiap hari, atau pemimpin yang jarang turun kebawah. Periksa lebih lanjut, berapa banyak rekan-rekan yang setuju kondisi diatas memang sedang terjadi di perusahaan. Jangan –jangan hanya anda sendiri yang terlalu sensitif, sementara perusahaan sebenarnya tidak begitu.

 

Sakit” juga bisa karena faktor teknikal seperti faktor keuangan perusahaan yang berdarah-darah, ditandai dengan penurunan penjualan yang tajam, gaji yang mulai sering telat karena kas hampir kosong, mulai ada pengurangan pegawai dll. Perusahaan yang tidak mau diangggap sakit, seharusnya secepatnya berbenah, mulai dari mengadakan strategic management audit sampai mencari turnaround strategy yang sesuai dengan kondisi terkini.

 

Yang paling parah adalah ”sakit” karena gabungan dari dua pengertian diatas. Sudah unsur social side-nya kena, unsur teknikal sidenya juga bermasalah. Perusahaan seperti ini dapat diibaratkan seperti kapal Titanic yang sudah kebanjiran air. Jika tidak ada kesadaran dari top management untuk berubah, maka lagu ” menghitung hari ” sebaiknya mulai disenandungkan .

 

Langkah berikutnya adalah menentukan pilihan strategi :

 

Stategi pertama : tetap setia dan bertahan.

Strategi ini mengharuskan anda untuk tetap sabar menanti. Siapa tahu akan ada projek baru yang masuk, siapa tahu tiba-tiba perusahaan sadar dan mau berubah. Sisi positif dari strategi ini adalah : anda akan dianggap loyalist sejati, sehingga saat perusahaan membaik, tentunya hadiah promosi jabatan dan bonus akan menanti. Sisi negatifnya adalah : jika perusahaan tidak membaik, anda bisa ”ikut tenggelam” bersamanya. Jika memilih strategi ini, kiat untuk tetap sehat adalah berusaha untuk mencintai profesi , bukan perusahaan. Dengan cinta akan profesi, bekerja di perusahaan ’sakit” tidak akan menjadi beban. Anda masih bisa tersenyum walaupun ada yang mengatakan bahwa anda sebenarnya suffer in silence.

 

Stategi kedua : bersuara

Jika anda pegawai yang tidak ingin pasrah pada nasib, tetapi ingin berkontribusi untuk memperbaiki keadaan, berbicaralah langsung dengan atasan. Daripada hanya mengeluh, sampaikan juga pokok pikiran anda yang kira-kira dapat mengubah keadaan. Persiapkan ide konstruktif dan sampaikan di saat yang tepat. Sisi positifnya adalah : anda bisa dianggap ”pegawai yang berinisiatif” karena telah berusaha membantu perusahaan, namun hati-hati juga dengan sisi negatifnya dimana anda bisa dianggap ”sok pintar” . Ingat kata orang bijak : Don’t out smart your boss dan The boss is always right. Pimpinan yang kurang bijaksana bisa saja menganggap anda sebagai orang ”mblalelo”, dan menjadikan anda target untuk dilengserkan secepatnya.

 

Stategi ketiga: Bersikap pasif.

Langkah ini biasanya ditempuh jikalau anda sudah begitu apatisnya terhadap perusahaan, tetapi belum mendapatkan peluang kerja di tempat lain. Biasanya ditandai dengan bekerja seadanya, mulai sering mangkir, mulai sering terlambat dan mulai sering membuka situs lowongan kerja Sisi positif bagi anda adalah: daripada keluar tanpa penghasilan, setidak-tidaknya masih ada gaji yang diterima di akhir bulan. Sisi negatifnya juga ada yakni : anda dianggap tidak perform, sehingga malah merusak citra diri.

 

Stategi ke empat: Keluar

Cara ini disarankan jika anda sudah yakin benar bahwa memang no fun working here anymore , lagipula situasi kantor sudah dalam taraf membahayakan kesehatan fisik dan mental. Lebih bagus lagi jika sudah pasti mendapatkan tempat kerja yang baru atau setidak-tidaknya punya sumber keuangan yang lain.

 

Pendapat Marcus Buckingham dan Curt Hoffman, penulis buku First Break All the Rules perlu disimak. Dengan tegas mereka katakan bahwa : pegawai meninggalkan manajer/direktur, bukan perusahaan! Artinya : Jika anda mengganggap diri sebagai orang yang kompeten namun mulai tidak betah, maka sebenarnya anda masih ingin bekerja namun tidak dibawah manajer/direktur yang sekarang! Lagipula jika anda berbakat namun memilih keluar, perusahaan akan merugi karena ada biaya untuk mencari dan melatih pengganti, penurunan moril teman sejawat anda, kemungkinan kehilangan klien yang telah anda bina, dan kebocoran ”ilmu” perusahaan yang dibawa ke perusahaan pesaing.

 

Change yourself

Memang tidak gampang memutuskan strategi mana yang terbaik untuk anda. Namun ada nasehat bijak yang perlu dicermati : Jika anda sudah berusaha mengubah orang di sekeliling, tetapi ternyata mereka tidak mau berubah, maka yang sebaiknya dilakukan adalah mengubah diri sendiri. Tunggu apa lagi ?

 

 

Penulis adalah Corporate Adviser dan pengajar Post Graduate Program. Dapat dihubungi di : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Menimbang manfaat Corporate University

di saat krisis ini

By DANIEL HADINATA SAPUTRO

 

Pernahkah anda mendengar istilah Corporate University (CU) ? Seperti yang diberitakan oleh media masa , baru-baru ini Allianz telah meresmikan Allianz Indonesia - Corporate University (AICU) di Jakarta. Istilah ini menjadi trend bisnis baru dan fenomena global bagi para pebisnis yang sadar akan pentingnya kualitas sumber daya dimana Human Capital sudah menjadi Human Energy .

 

Pada awalnya CU yang berasal dari Amerika , merupakan perwujudan dari visi perusahaan yang sadar akan pentingnya sumberdaya manusia sebagai aset utama perusahaan, dan digunakan sepenuhnya sebagai instrumen strategi untuk mencapai tujuan perusahaan . Memang kalau dilihat dari strategi 6C2 - The Iceberg Strategy [ lihat appendix ] , untuk sukses mengimplementasikan strategi , ternyata unsur-unsur teknikal yang dilandasi scientific management - tidaklah cukup. Berdasarkan studi empiris , seperti yang para pebisnis alami sendiri, faktor terbesar yang menjadi tantangan pada saat implementasi strategi adalah faktor human-social , yang berada “dibawah permukaan air” . Tidak kelihatan tetapi sangat menentukan berhasil atau tidaknya implementasi .

 

Di tahun 1993 , hanya sedikit perusahaan yang percaya akan pentingnya CU, namun di tahun 2001 CU sudah menjadi bagian internal dari 2.000 perusahaan termasuk Motorola (pelopor Six Sigma), Walt Disney , Boeing , Intel University, Sun U (milik Sun Microsystems), dan Apple University .

 

Bagaimana di Indonesia . Walau belum banyak sebenarnya sudah ada beberapa Corporate University (CU) di Indonesia, seperti : Astra , Garuda Food, Danamon dll.

 

Apa keuntungan mempunyai CU bagi pebisnis Indonesia di masa krisis ini ? Berdasarkan survey dan observasi , penulis menemukan beberapa keuntungan dari adanya CU di organisasi anda , seperti :

 

  1. Mengembangkan kompetensi karyawan agar tetap produktif di masa krisis . Dalam kondisi krisis, ditambah lagi adanya kompetisi yang super ketat , untuk mencapai “TO BE THE BEST “ , banyak perusahaan besar yang sadar bahwa tingkat kompetensi sumber daya manusia sangat dibutuhkan untuk mencapai goal ambisius tersebut. Kita bisa belajar dari Mc Donald’s dengan Hamburger University-nya yang berlokasi di Chicago. Meski hanya menjual hamburger, McDonald's sangat serius dalam membangun dan mengembangkan sumber daya manusia berkualitas. Bagi Ray Kroc, berbisnis hamburger bukan sekedar membuat dan menjual hamburger, tetapi lebih dari itu . Bisnis ini adalah bisnis manajemen manusia , baik karyawan maupun konsumen.

 

  1. Tempat mempertajam naluri bisnis eksekutifnya dan mempersiapkan kader-kader

 

Akibat globalisasi, tingkat persaingan dan perilaku konsumen semakin sulit diprediksi, sehingga usaha meningkatkan marjin laba pun semakin sulit. Umumnya untuk mengatasi halangan ini , perusahaan akan meningkatkan pengiriman eksekutifnya ke seminar pengembangan strategik dan program MBA . Nyatanya cara ini belum memecahkan masalah inti . Program MBA sering dikritik karena kurang menyentuh persoalan bisnis yang aktual. Masih terlalu general . Ibaratnya program MBA mengajarkan seluruh A to Z kepada siswanya, padahal yang diperlukan hanyalah K atau L saja, dan di bidang tertentu saja. Karenanya beberapa perusahaan menginginkan pendidikan bisnis yang lebih dekat dengan kegiatan bisnis sehari-hari.

Di CU inilah para CEO dapat menyaring dan mempersiapkan kadernya. Dalam hal ini kita harus angkat topi kepada GE University di Crottonville USA. Konon kampus GE ini lebih baik dari Harvard atau Wharton , karena kampus ini lebih banyak menghasilkan CEO dan business leaders yang lebih hebat dibanding sekolah bisnis lainnya . Di Indonesia , Garuda Food sudah melakukannya sejak 2003 melalui CU yang dinamai Tudung Leadership Development Institute .

 

  1. Mengurangi biaya dan mengorganisasikan training secara lebih terpadu .

Ray Kroc, pendiri McDonald's mengatakan "None of us is as good as all of us" . Karenanya diperlukan training . Namun kompetisi bisnis yang ketat menimbulkan dampak pula pada pengetatan biaya training. Sebagai jawabannya, semakin banyak perusahaan yang kian menyatukan upaya training dalam satu paying, yakni : Corporate University. Di Mc Donald’s mereka mendirikan Hamburger University , bukan hanya untuk mendapatkan manajer di masa depan tetapi juga untuk mengurangi biaya training saat ini. Inilah tempat di mana ribuan manajer waralaba baru belajar dan memperoleh gelar sarjana dalam “Hamburgerologi” selama kurang lebih 1 tahun.

.

  1. Memulai dan mendukung perubahan di organisasi .

Sadar betapa pentingnya merangkul budaya perubahan, banyak perusahaan mencoba mencari mekanisme terbaik mengelola perubahan. Pada masa krisis I periode 1998-1999, Astra terpaksa mem-PHK 20.000 karyawan tetap dan 5.000 pegawai kontrak sehingga jumlah karyawan Astra tinggal sekitar 100.000 orang. Melihat adanya bahaya mendorong Astra mendesain ulang fokus dan strategi bisnis. Perubahan fokus bisnis ini, menuntut perubahan mentalitas dan kompetensi yang sangat besar. Karenanya Astra melakukan perubahan organisasi dan menetapkan figur-figur yang tepat untuk mengisi posisi yang ada berdasarkan kebutuhan organisasi serta kompetensi baru yang dibutuhkan. Menyadari bahwa perubahan terberat adalah menyangkut manusia, maka tugas “merubah” orang tersebut dilakukan oleh Astra Management Development Institute, CU-nya Astra. Tidak mengherankan kalau Astra kini disebut-sebut sebagai organisasi dengan system manajemen terbaik di Indonesia .

 

  1. Meningkatkan pemahaman akan nilai-nilai perusahaan , sehingga menciptakan corporate culture , yang pada ujungnya berpengaruh terhadap profitabilitas dan loyalitas terhadap perusahaan

Salah satu kunci sukses GE – menurut Jack Welch – adalah karena kampus GE ini bukan hanya sebagai tempat untuk mendidik karyawan menjadi lebih baik, namun juga sebagai medium memperluas perubahan dalam kultur dan pemikiran yang membuat GE terus maju.

Demikina juga di Hamburger University – Mc Donalds , para siswa dilatih tidak hanya keahlian teknis tetapi juga nilai-nilai perusahaan , kultur, filosofi, sejarah perusahaan, dan keahlian kepemimpinan, agar bisa memberikan layanan, kebersihan, dan nilai-nilai berkualitas tinggi bagi konsumen. Di sinilah para siswa diindoktrinasi, dibentuk, dan dikembangkan. Inilah rahasia mengapa Mc Donlad’s menjadi fast food restoran terbanyak di dunia . Bahkan majalah The Economist menggunakan "Big Mac Index": perbandingan harga Bic Mac di berbagai mata uang dunia untuk mengukur purchasing power parity.

 

  1. Meningkatkan Corporate Social Responsibility

Selain memberikan edukasi kepada internal perusahaan , CU juga dapat digunakan sebagai bagian dari CSR .Misalnya Allianz juga memberikan kesempatan kepada mitra usaha untuk ikut dalam programnya . Pelanggan GE ataupun orang-orang lain yang beruntung ( level manager) , bisa menikmati ilmu manajemen GE melalui program ACFC (At the Customer for the Customer) di kampus GE .

 

Langkah sebagian perusahaan untuk membuat CU adalah langkah yang tepat , sebab banyak perusahaan yang walaupun menyadari pentingnya sumber daya manusia, namun biasanya hanya berhenti di ucapan-ucapan saja, dan sekedar formalitas mengirimkan pegawainya secara parsial untuk ikut training ( yang di-disain secara generik ), sehingga seringkali tidak selaras dengan visi-misi perusahaan . Para pebisnis ini rupanya menganggap remeh faktor human-social ini . Ibaratnya kapal Titanic , yang hanya memandang bagian atas bongkahan es (unsur teknikal ) , tetapi lupa akan bahayanya bagian bawah bongkahan es ( unsur human-social ). Dan seperti yang sama-sama kita ketahui , terjadilah malapetaka itu . Benarlah apa yang didapatkan penulis sewaktu mengikuti program Directorship dari IICD , dimana dikatakan salah satu sebab mengapa perusahaan bisa tersungkur adalah faktor : mengabaikan Human Energy ini.

 

Lalu bagaimana jika perusahaan anda belum memiliki kompetensi , pengalaman, dana , sumber daya untuk melaksanakan Corporate University ? Umumnya yang dilakukan perusahaan besar adalah bekerja sama dengan program MBA yang sudah mapan walaupun sebenarnya seringkali programnya terlalu umum dan tidak berdampak langsung terhadap perusahaan .

 

Bagi perusahaan dengan dana terbatas , solusinya adalah : di-outsource-kan kepada lembaga yang mampu membawa para lecturers`S2 - yang sudah terbiasa mengajar di program MBA – untuk datang mengajar di kantor anda. Toh 70% pengajar S-2 di berbagai program MBA di Jakarta adalah orang-orang yang sama. Perusahaan bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang sama dengan biaya yang lebih terjangkau . Disamping itu program ini bisa diminta untuk diselaraskan dengan kebutuhan perusahaan . Sebelum lulus , para peserta diharuskan membuat projek yang berdampak positif kepada perusahaannya . Jadinya ilmu yang dipelajari bisa berguna bagi perusahaannya . Sinar Mas sudah melaksanakannya , dan dipercaya akan segera diikuti oleh perusahaan lainnya yang yakin akan potensi Human Energy .

 

Jadi bagaimana jawaban anda atas pertanyaan diatas ?

 

Penulis adalah pemerhati strategi bisnis dan penemu konsep 6C2 The Ice-Berg Strategy . Dapat dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 



Appendix:

6C2 adalah konsep bisnis yang memadukan unsur rasionalitas Barat dan kearifan Timur. Unsur rasionalitas Barat ini merupakan unsur teknikal yang menerapkan scientific management sebagai landasan berpikir. Terdiri dari 6 faktor yakni :

  1. Clients  : customer centric adalah kuncinya

  2. Corporation : termasuk vision of change , core competency , competitive strategy dll

  3. Contestants : pesaing langsung atau tidak langsung , produk pengganti , produk alternatif dan ancaman pemain baru

  4. Changes : sensitifitas terhadap perubahan PDLEETS [ Politik-Demografi-Legal-Ekonomi-Environment-Teknologi-Sosiokutural]

  5. Companions : Partnership

  6. Coercive powers : grup-grup penekan yang seringkali memusingkan kepala

Namun 6C teknikal ini tidaklah cukup . Ibaratnya gunung es jangan lupakan juga unsur yang tak kelihatan yaitu: human -social side , yang terdiri dari 6 faktor juga yakni :

  1. Connections : untuk mempermudah mendapatkan persetujuan

  2. Corporate culture , values dan leadership

  3. Communication: untuk menyelesaikan beda persepsi

  4. Commitment : untuk mendapatkan loyalitas

  5. Coordination : untuk mendapatkan sinergi

  6. Corporate responsibility

Gabungan 6C teknikal ditambah 6C human-social ini dikenal sebagai 6C2 – Ice Berg Strategy.

 

 

Biosketch :

Penulis adalah konsultan bisnis senior yang telah berpengalaman menangani berbagai perusahaan di Indonesia , Thailand dan Jordania . Lulusan dari IICD – Directorship Program 59th batch ini juga aktif menulis . Berbagai artikel-nya sudah diterbitkan oleh beberapa majalah. Yang terakhir adalah Manager-Intrapreneur di Jakarta Post dan 6C2-Iceberg Strategy di majalah SWA. Penulis dapat dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Add comment