- Participants
- Download Materials
Find your files here - Harvard Referencing
pdf file - Harvard Tutorial
Online Studying
- Download Materials
- Partners
- Accurate
Accounting Software - Jakarta Post
How to survive - KONTAN
Strategi tetap sehat - London School
Public Relations - Search Engine
Marketing Online Bisnis - Solar Cell
Panel mengkonversikan energi matahari menjadi listrik. - SWA
Majalah Bisnis | Konsultasi
- Accurate
Statistic
Content View Hits : 24764| Strategi Pencitraan Diri Bagi Eksekutif dengan Blue Ocean Strategy |
|
Mengapa perusahaan-perusahaan Fortune 500 banyak yang menyewa konsultan brand untuk membangun, memelihara dan memonitor brand image mereka? Karena brand dapat menunjukan reputasi, kualitas, kepercayaan masyarakat kepada perusahaan. We are branded, branded, and branded. Kita dikelilingi oleh merek dan persepsi. Persepsi positif suatu perusahaan juga dapat direfleksikan lewat para eksekutif, manager, bahkan sampai ke karyawan level terbawah. Hal ini juga didukung oleh survei yang dilakukan Hill & Knowlton yang menyimpulkan bahwa reputasi perusahaan sangat erat kaitannya dengan citra publik terhadap para eksekutifnya. MENGAPA CITRA DIRI PENTING Citra diri yang positif tentunya akan memudahkan eksekutif untuk bergaul sehingga memperlancar bisnis, menjalin hubungan yang lebih kental dengan klien, dan pastinya membuat dirinya lebih mudah meniti karir. Lewat citra diri itulah eksekutif dapat mengkomunikasikan siapa dirinya yang sebenarnya, termasuk jabatan dan kompetensi yang dimiliki, merefleksikan kredibilitas, reputasi, intelegensia, dan kepercayaan diri. Eksekutif adalah iklan hidup – iklan berjalan. Nilai dari citra diri eksektuif berkorelasi langsung dengan "ersepsi nilai" bagi target audiencenya. Kegagalan membina citra diri dapat menyebabkan kehancuran persepsi nilai. Karenanya, mencegah kegagalan citra diri jauh lebih baik daripada mengobatinya. Pada dasarnya citra diri terdiri dari 5 komponen penting yakni :
Jika ke 5 faktor ini bersinergi, maka terwujudlah nilai personal atau kristalisasi diri bagi pemiliknya. Jika kristalisasi diri ini dikomunikasikan [ lewat media, seperti TV, koran termasuk Internet ] ke audience yang tepat, maka kita akan lebih mudah menciptakan citra diri positif, dikenal dan mendapatkan simpati. Seperti halnya Branding, citra diri juga tentunya akan ber-evolusi mengikuti waktu dan trend. Citra diri juga akan mengikuti Person Life Cycle, ada masa introduction, growth, maturity dan decline. Setiap tahap tentunya membutuhkan strategi pencitraan diri yang berbeda. Apa yang efektif pada masa Introduction, belum tentu efektif di masa growth. Jika timbul keraguan, tidak ada salahnya menghubungi konsultan untuk meluruskan strategi anda . Ada beberapa pertanyaan yang sering muncul dalam pencitraan diri, diantaranya adalah :
Pertanyaan ini gampang diucapkan, namun susah untuk dicarikan jawabannya. Tetapi ada berita bagus, dan ini benar-benar berita bagus, karena setiap orang dapat kesempatan untuk mempelajarinya, menerapkannya, dan memperkaya citra dirinya. Dari pertanyaan – pertanyaan diatas, factor pembeda / differentiator yang dicari, dapat ditemukan dengan pendekatan Blue Ocean Strategy.
MENGENAL BLUE OCEAN STRATEGY Sejak dulu, manusia terlibat kompetisi langsung satu sama lain demi mengejar sesuatu yang menjanjikan. Memang persaingan tampaknya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam dunia pencitraan diri, fokus dari kebanyakan orang adalah strategi untuk lebih unggul bersaing dan mengalahkan pesaingnya. Padahal, dalam masyarakat dewasa ini, berpikir seperti dalam perang, mengalahkan lawan dan berkompetisi langsung, tak lain hanya akan menghasilkan “samudra merah” berdarah-darah, dan persaingan gontok-gontokan yang saling menghancurkan. Terlalu banyak korban berjatuhan dan darah mengalir deras. Situasi inilah yang disebut sebagai Red Ocean (Samudera Merah penuh darah). Ketidakpuasan terhadap pendekatan perang dan kompetisi inilah yang mendorong Prof. W. Chan Kim dan partnernya untuk mencari pendekatan baru. Kolaborasi antara kebijakan dari timur dan disiplin rasional dari barat membuahkan pendekatan strategi baru, yakni Blue Ocean Strategy (Strategi Samudera Biru), yang intinya adalah : bagaimana kita menemukan blue ocean (istilah yang artinya keluar dari kancah persaingan berdarah-darah / me too / Red Ocean) dengan menonjolkan keunikan yang belum dimiliki oleh orang lain. Dengan berpindah habitat ke samudera biru, maka persaingan menjadi tidak relevan. Gaya hidup, cara berpikir, dan tindakan yang diambil juga akan berbeda dibandingkan sewaktu berada di Red Ocean.
BAGAIMANA MENGGUNAKAN BLUE OCEAN STRATEGY UNTUK PENCITRAAN DIRI Dengan menjungkalkan pemikiran tradisional tentang strategi, Prof Kim telah memetakan “sebuah jalur baru, provokatif, inovatif dan berani untuk memenangi masa depan.” Kita dapat menggunakan enam prinsip dari Prof Kim untuk merumuskan dan menerapkan strategi samudra biru dengan sukses. Keenam prinsip itu menunjukkan cara merekonstruksi batas-batas target audience, berfokus pada gambaran besar, melampaui tuntutan yang ada, merancang rangkaian strategi dengan benar, mengatasi rintangan-rintangan dalam diri, dan mengintegrasikan ekskusi ke dalam strategi. Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan kajian “strategic canvas” sebagai landasan untuk membangun strategi. Untuk itu kita perlu menjabarkan KSF dan KFF (Key Success Factor dan Key Failure Factor) dalam perspektif target audience kita. Ada 4 kunci aksi yang harus dipilih supaya lepas dari persaingan dan memberi nilai tambah luar biasa.
Langkah kedua, kita buat pemetaan “strategy canvas” mengenai citra diri kita yang ada saat ini. Perhatikan faktor apa saja dalam KSF yang menjadi pusat pertempuran, namun sesungguhnya bukan satu-satunya syarat mutlak pilihan calon konsumen, lalu kita kelompokkan pada “offering level” yang rendah saja. Kita perlu juga mencari dan memfokuskan pada kurva nilai yang unik dan luar biasa. Diharapkan citra diri kita tidak lagi menyebar secara sporadis ke semua faktor utama (KSF) dalam kompetisi, tetapi lebih selektif dan menjauh dari orang-orang kebanyakan serta menciptakan (create) hal baru yang selama ini belum terpikirkan.
Langkah ketiga, setelah menyusun strategy canvas tersebut di atas, maka akan tampak beberapa faktor yang merupakan “target audience” yang menjadi penciri bahwa citra diri kita sudah berada di samudera biru. Menciptakan Blue Ocean tidaklah mudah. Selain karena menawarkan kurva citra baru dengan biaya rendah membutuhkan kreativitas dan kemampuan pengamatan yang tinggi, Blue Ocean sering juga memaksa kita membongkar ulang sistem kepercayaan kita sebelumnya. Penutup: Anda membawakan sebuah citra diri. Tidak ada jalan singkat untuk menciptakan citra diri. Hanya satu yang pasti ; mulailah dari sekarang menemukan Blue Ocean anda ATAU menyesal…..!!
|
