We are your BusinessBuddy in: Managing Change, constructing Strategy Map - Balanced Scorecard, improving Action Plan and Business Model. Call 0816-485-7282 for more information

 

Download: Mengubah organisasi menuju kinerja lebih baikHow to win 2011 , Balanced Scorecard
Workshops:  Service Scorecard - HR Scorecard - Leadership Scorecard 

Konsultasi Interaktif

Statistic

Content View Hits : 24760
Strategi Menghadapi Produk Murah Akibat ACFTA
Semua ini berawal dari 4 Nov 2002, saat Indonesia  menandatangani Asean-China Free Trade Area (ACFTA). Januari ini, 83% dari 8738 produk impor China akan bebas masuk ke pasar Indonesia tanpa dikenai BM. Padahal China sudah menjadi raksasa ekonomi dunia (peringkat ke 3 dibelakang USA dan Jepang).   Ekonomi China berkembang 10 kalilipat dalam 30 tahun terakhir melibas Jerman.
Diprediksi  3-4  tahun lagi China  menyamai Jepang. Dari dulupun produk China yang terkenal murah sejatinya sudah membuat pebisnis lokal ketar-ketir , apalagi sekarang yang tanpa BM. Industri yang paling terkena imbas adalah tekstil ( China tumbuh 10 kali lipat dari Indonesia) dan alas kaki. Lihat saja perajin tradisional di Pekalongan dan Pasar Klewer Solo. Ketika batik China masuk tahun 2008 saja sudah terjadi penurunan omzet. Kini perajin yang biasanya bekerja secara home industry makin resah karena tekstil China, terutama dengan bahan sutra bermotif batik, mirip dengan batik Pekalongan, dijual lebih murah dan berkualitas bagus.

Mengapa produk China berharga murah dan semakin bagus kualitasnya?
Kenali lawanmu dan  kenali dirimu.  Untuk mengenal  lawan, amati  sisi technical dan sisi  human social-nya.

Sisi technical
Pertama , China unggul di 12 faktor kompetisi bisnis (GCI China di 29, Indonesia di 54) .  kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa. China menang telak di  faktor: sistem birokrasi yang cepat-tepat (dibanding korupsi dan lambatnya pelayanan umum di  Indonesia), infrastruktur (bandingkan di Indonesia yang jalanannya super macet, buruknya penanganan di pelabuhan dan uang siluman), stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar (sehingga mampu mencapai economies of scale). Belum lagi masalah byarpet energi listrik yang akhirnya menjadi penghalang ekonomi biaya murah.
Kedua, China menerapkan strategi "Reverse Engineering” atau imitasi, sehingga dapat mengurangi biaya R & D, serta dapat memproduksi barang yang bervariasi dalam waktu singkat. Patut diduga China punya sejenis pemusatan business intelligence.
Ketiga, adanya tax free policy selama 3 tahun pertama untuk perusahaan joint venture, subsidi 13.5%  dari pemerintahan lokal dalam bentuk tax refund , pinjaman bank yang hanya 3%/tahun, serta banyak industri pendukung sehingga industri China tidak perlu mengimport barang. Mata uang Yuan yang dipatok terhadap USD jelas membuat harga ekspor barang China menjadi sangat murah.

Keempat, system politik di China yang lebih terbuka dan sudah tidak memberangus kritik lagi sehingga mendorong continuous improvement.  Contohnya ada pertemuan tahunan yang disebut Chinese Economists Society.

Sisi human-sosial
Pertama, adanya networking keluarga. Marga dan nama sangat  membuka peluang kerja sama. Pebisnis China bisa menekan biaya marketing karena mereka menggunakan networking ini untuk promosi.

Kedua, Ada trust antar pedagang, terutama kredit yang dilandai oleh  Guanxi (hubungan). Guanxi ini tidak hanya pada keluarga saja , tetapi juga  kesamaan asal daerah, sekolah  dan persahabatan.  Trust ini lebih penting dari secarik kertas yang berisi kontrak, hitam atas putih. Cara ini bisa menekan biaya peminjaman dana dari bank.

Ketiga, investasi luar biasa di sektor pendidikan . Di 1998, 3,4 juta pelajar masuk ke universitas. 4 tahun kemudian, pendaftaran universitas naik 165% dan siswa China yang keluar negeri naik 152%. Setelah lulus mereka kembali dan membangun negerinya. Walau awalnya hanya menjadi pabrik outsourcing, namun karena SDMnya sudah menguasi teknologi, tak heran perusahaan China seperti Lenovo bisa membeli IBM Thinkpad; Huawei mengancam Cisco dan Ericsson; Haier mengejar GE, Whirlpool dan  Maytag.

Keempat, walau upah tenaga kerja hampir sama, buruh China bekerja lebih efisien (China di peringkat 32 ,Indonesia di 75 dari 133 negara). Produktivitas pekerja China naik 6%/tahun (1978 – 2003). 1 produk butuh 1 pekerja di China namun 3 pekerja di Indonesia .Tukang batu di China memang benar-benar tukang batu tulen sementara di Indonesia tukang batu adalah petani yang menganggur.

Cara mengatasinya

Langkah awalnya adalah: analisa Core Competency anda. Kenali dirimu berarti kita harus mengetahui betul apa Core Competency yang kita miliki namun tidak dimiliki  China. Hati-hati: Core Competency tidaklah sama dengan  sumber daya yang kita miliki, seperti pertambangan, perkebunan/pertanian, properti, dan infrastruktur (menurut banyak pakar masih bisa bersaing dengan China). Sektor perkebunan misalnya, memang Indonesia memiliki luas lahan yang besar, namun outputnya perlu digenjot agar lebih Valuable , Rare, Costly to imitate dan Non substitutable. Karenanya diperlukan Strategic Management Audit oleh pihak ketiga agar anda tahu persis kekuatan dan kelemahan yang eksis di perusahaan.  

Lalu hadapi strategi harga murah China dengan 4 cara. Yang pertama adalah melalui strategi harga lebih murah dari China, yakni menggunakan cara cloner, imitator , adapter (yang meniadakan biaya R&D), dan relokasi pabrik. Cara kedua : meningkatkan diferensiasi  seperti after sales service yang lebih baik misalnya garansi uang kembali, produk yang berdasarkan kebudayaan asli Indonesia, hassle free experience, atau specialization yang memanjakan konsumen terutama di sektor jasa. Penulis menemukan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang gampang tersenyum dibanding bangsa lain. Senyum lepas khas Indonesia ini sebenarnya juga bisa digunakan sebagai diferensiasi. Cara ketiga adalah  inovasi produk yang lebih murah tetapi cukup berkualitas dengan Blue Ocean Strategy. Cara keempat, strategy positioning  “ada harga ada rupa”. Produk makananan China dikenal berbahaya: mainan anak beracun, komestiknya mengandung merkuri, susu mengandung melamin, perhiasan imitasi China mengandung logam berat kadmium.  Banyak yang bilang  kain batik asal China, memang murah tetapi motifnya tidak bagus, kasar, dan kainnya kalau dipakai terasa panas di badan, sedangkan kain batik di Solo motifnya cukup bagus, begitu juga kualitasnya.
Tentunya mengenal karakteristik pembeli sangat membantu dalam penentuan strategi. Pembeli dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni: Premium ( yang mementingkan kualitas, gengsi, lifestyle dan tidak ada masalah dengan harga ), Value for Money ( yang mencari perbandingan terbaik antara kualitas yang didapat dan uang yang dikeluarkan )  dan  Economy ( harga adalah segalanya, kualitas menyusul ). Nah, produk China sebenarnya lebih diterima oleh pembeli Economy dan Value for Money. Yang jelas pembeli Premium tidak akan terpengaruh oleh produk China ini.
Terakhir, perkuat “gotong royong” dan “tolong menolong”. Dayagunakan jalinan kekeluargaan, kedaerahan, dan alumni untuk membangun social capital seperti  di  China.

Selain itu tentunya  pemerintah juga harus berperan lebih aktif membantu industri dalam negeri  melalui: strategi non tariff seperti pengetatan seluruh SNI (Standar Nasional Indonesia), label halal,  mendayagunakan KADI (Komite Anti Dumping),  KPPI (Komite Pengamanan Perdagangan. Juga membatasi eksport energi untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, kebijakan fasilitas pajak, reformasi birokrasi dan perbaikan infrastruktur.  

Selamat berjuang pebisnis Indonesia, kita pasti menang !
 

Add comment