|
Menurut Dr. Jagdish N. Sheth dalam bukunya “The Self-Destructive Habits of Good Companies”, salah satu kebiasaan yang merusak dari perusahaan yang baik adalah : rabun jauh persaingan ( hanya melihat faktor kompetisi saja dan mengabaikan faktor lainnya ). Padahal menurut konsep Ice Berg Strategy ( lihat Appendix ), kompetisi ( sebagai faktor : Contestant ) hanyalah merupakan salah satu faktor dari faktor 6C2 lainnya. Faktor lainnya yang mempengaruhi profitabilitas (earnings ) dan value perusahaan dalam kondisi krisis ini adalah faktor perubahan ekonomi ( Change ).
Siapa yang tidak gelisah mendengarkan kondisi ekonomi Indonesia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris memperkirakan pertumbuhan Industri tahun 2009 hanya bisa mencapai 3,6% sampai 4,6%. Menurut harian utama di Indonesia, sampai 27 Februari lalu sudah 37.905 buruh kehilangan pekerjaan. Ini belum termasuk buruh yang dirumahkan. Lalu bagaimana pengaruh kondisi ekonomi ini terhadap profitabilitas dan value perusahaan ?

Mengacu ke gambar diatas, unsur perubahan ekonomi ( Change ) secara langsung akan mempengaruhi Clients dan Corporate kita [ bagian dari 6C2 ]. Ada 3 komponen perubahan ekonomi yang berperan disini yakni :
-
Economic Growth / Pertumbuhan Ekonomi
-
Pada 2009, semua emerging markets akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, tanda-tanda pelemahan ini bisa dilihat pada aktivitas perdagangan di pelabuhan Tanjung Priuk (menangani 70 persen transaksi ekspor impor nasional) yang makin sepi saja. Berdasarkan gambar diatas, pertumbuhan ekonomi yang melambat ini akan mengurangi permintaan konsumen. Mengapa ? Karena naiknya harga bahan baku, ancaman PHK, rasa pesimis terhadap masa depan, harga jual produk yang lebih tinggi, situasi yang tidak menentu menjelang pemilu, tentunya akan membuat sektor rumah tangga mengurangi konsumsinya, otomatis manufacturer juga akan mengurangi produksinya, sehingga total pendapatan perusahaan juga turun , yang ujung-ujungnya mengurangi pendapatan para pegawainya. Lalu konsumsi rumah tangga pegawai ini juga ikut turun. Jika konsumsi terus menurun, tentunya penerimaan perusahaan juga turun, dan terjadilah ”snow ball effect”. Padahal kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi berasal dari konsumsi rumah tangga ( 70 persen dari produk domestik bruto ).
-
Interest Rates / tingkat suku bunga
Pada gambar diatas terlihat bahwa tingkat suku bunga mempengaruhi :
a. Demand / Permintaan konsumen .
-
Contoh paling nyata industri yang paling peka terhadap perubahan tingkat suku bunga ini adalah industri sepeda motor. Pada akhir tahun 2008 permintaan sepeda motor di Jakarta turun 20% yang diakibatkan kenaikan BBN [ 10% ] dan kenaikan suku bunga pinjaman [ naik dari 15% menjadi 20% ] Untunglah di tahun 2009 ini terdapat trend penurunan suku bunga. Di akhir tahun 2008, BI rate masih 9,25%, namun pada tanggal 4 Maret 2009, BI rate telah turun menjadi: 7,75%. Penurunan suku bunga BI ini berdampak pada turunnya suku bunga kredit sepeda motor. Penurunan suku bunga kredit satu sampai dua persen saja sangat mempengaruhi permintaan sepeda motor karena cicilannya jadi turun. Ini sangat berarti bagi konsumen sepeda motor, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor manufaktur, yang saat ini mengalami penurunan pendapatan karena banyak pabrik menurunkan produksinya sehingga tidak ada lagi uang lembur. Jangan heran, bila permintaan kredit motor meningkat hingga 10 persen dalam sebulan terakhir.
b. Biaya peminjaman bagi perusahaan
-
Walau BI sudah menurunkan BI Rate ke level 8,75 persen pada 7 Januari 2009, suku bunga kredit diperkirakan susah turun. Hingga kini, tingkat bunga pinjaman masih di sekitar 14-15 persen. Tingginya tingkat suku bunga ini tentunya membuat para pengusaha berpikir dua kali jika ingin meminjam uang dari bank. Di saat ekonomi yang tidak menentu ini, resiko meminjam uang sangatlah besar karena di satu sisi pengusaha harus membayar bunga yang tetap tinggi, di sisi lain pendapatan mereka adalah tidak menentu. Akibatnya kegiatan sektor riil bakal tertahan dan pertumbuhan ekonomi pastinya juga melambat. Banyak pengusaha yang mengharapkan bunga kredit dapat diturunkan hingga 11-13 %. Penurunan itu akan membantu aliran kas kepada para pengusaha dan mengurangi beban bunga, sehingga memberi dana tambahan yang dapat digunakan oleh kepentingan lain, seperti menjaga agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja juga dapat memperluas usaha. Karenanya penurunan tingkat suku bunga sangat diharapkan karena menurunkan biaya peminjaman, yang akhirnya akan meningkatkan profitabilitas dan value perusahaan.
-
Inflation
-
Inflasi adalah kenaikan harga barang / jasa sehingga nilai uang menjadi turun ( inflasi di bulan Februari 2009 - year on year - adalah 8,6% ). Menurut gambar diatas, jelas inflasi akan merugikan daya beli perusahaan karena harga bahan baku akan semakin tinggi, Jika biaya bahan baku tetap tinggi, yang dikawatirkan adalah pengusaha terpaksa harus menaikkan harga jualnya, dan ini jelas merugikan konsumen yang berpendapatan tetap karena daya beli konsumen semakin turun .
Dari penjelasan diatas, terlihat bahwa terlalu fokus terhadap persaingan bisnis dan mengabaikan pengaruh faktor ekonomi akan berdampak serius terhadap penerimaan (revenue), biaya (expenses), profitabilitas (earnings) dan value perusahaan. Tentunya dalam jangka panjang, penganalisaan pertumbuhan bisnis tidak boleh hanya berpatokan terhadap faktor ekonomi belaka, namun harusnya dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi dengan menggunakan pendekatan 6C2 – Ice Berg Strategy.
Semoga bermanfaat bagi pebisnis Indonesia.
Penulis adalah konsultan bisnis Get Real Asia dan pengajar S-2 di beberapa program MBA. Dapat dihubungi di
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Appendix:
6C2 adalah konsep bisnis yang memadukan unsur rasionalitas Barat dan kearifan Timur. Unsur rasionalitas Barat ini merupakan unsur teknikal yang menerapkan scientific management sebagai landasan berpikir. Terdiri dari 6 faktor yakni :
-
Clients : customer centric adalah kuncinya
-
Corporation : termasuk vision of change, core competency, competitive strategy dll
-
Contestants : pesaing langsung atau tidak langsung, produk pengganti, produk alternatif dan ancaman pemain baru
-
Changes : sensitifitas terhadap perubahan PDLEETS [ Politik-Demografi-Legal-Ekonomi-Environment-Teknologi-Sosiokutural]
-
Companions : Partnership
-
Coercive powers : grup-grup penekan yang seringkali memusingkan kepala
Namun 6C teknikal ini tidaklah cukup. Ibaratnya gunung es jangan lupakan juga unsur yang tak kelihatan yaitu: human -social side, yang terdiri dari 6 faktor juga yakni :
-
Connections : untuk mempermudah mendapatkan persetujuan
-
Corporate culture, values dan leadership
-
Communication: untuk menyelesaikan beda persepsi
-
Commitment : untuk mendapatkan loyalitas
-
Coordination : untuk mendapatkan sinergi
-
Corporate responsibility – good corporate governance .
Gabungan 6C teknikal ditambah 6C human-social ini dikenal sebagai 6C2 – Ice Berg Strategy.
Bio sketch:
Penulis adalah konsultan bisnis senior yang telah berpengalaman menangani berbagai perusahaan di Indonesia, Thailand dan Jordania. Beliau juga aktif membagi pengalamannya di berbagai program MBA di Jakarta dan International University seperti : Monash – Curtin - UNSW [dikenal sebagai Group of 8 di Australia ]. Lulusan dari IICD – Directorship Program 59th batch ini juga aktif menulis. Berbagai artikel-nya sudah diterbitkan oleh beberapa majalah. Yang terakhir adalah Manager-Intrapreneur di Jakarta Post. Penulis dapat dihubungi di
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
|