We are your BusinessBuddy in: Managing Change, constructing Strategy Map - Balanced Scorecard, improving Action Plan and Business Model. Call 0816-485-7282 for more information

 

Download: Mengubah organisasi menuju kinerja lebih baikHow to win 2011 , Balanced Scorecard
Workshops:  Service Scorecard - HR Scorecard - Leadership Scorecard 

Konsultasi Interaktif

Statistic

Content View Hits : 24756
Kiat Sukses di Masa Krisis

Dalam kondisi normal, agar bisnisnya bisa sukses, umumnya para CEO menggunakan strategi bisnis kontemporer, mulai dari yang diakui sebagai ”mbah”nya strategy ( Sun-Tzu), sampai yang terbaru, Blue-Ocean Strategy (Prof Kim).

Namun dalam kondisi krisis, para CEO dituntut untuk lebih berhati-hati. Ada 2 pilihan yang dapat dilakukan :

Pilihan 1: Jika bisnis kita saat ini baik-baik saja, gunakan saja strategi yang sebelumnya kita pakai. If ain’t broken yet – don’t fix it. Dimulai dari vision-mission, dilanjutkan dengan analisa internal-external, timbulah beberapa alternatif, lalu dipilihlah strategi yang sesuai, dan akhirnya ditutup dengan implementasi.

Gambar 1: Proses strategi bisnis di saat kondisi normal.


Pilihan 2: Sebenarnya bisnis yang sukses harusnya memperhatikan 6 faktor dibawah ini ( bersifat komprehensif dan tidak parsial ) :

  1. Clients. Mengetahui bedanya clients dengan customers dapat merubah cara pandang kita dalam berbisnis. Customers adalah orang yang membeli produk atau jasa kita  sedangkan clients adalah orang yang berada dalam perlindungan kita dan karenanya merasa aman dan nyaman jika menggunakan produk / jasa kita. Dimasa krisis ini penulis mengusulkan agar istilah Customer Service diubah menjadi Client Service .

  2. Corporation. Jika kita ingin menang berperang, mulailah dengan mengenal diri sendiri. Tentukan dahulu apa core competencies kita yang bersifat : valuable, rare, costly to imitate dan non-substitutable .

  3. Contestants. Adalah ”seluruh” perusahaan yang dapat mempengaruhi clients kita dalam pengambilan keputusan pembelian, baik pesaing langsung,  tidak langsung,  produk pengganti, produk alternatif dan ancaman pendatang baru. Jadi jangan hanya fokus ke pesaing langsung, tetapi perhatikan juga seluruh contestants yang ada.

  4. Changes. Sensitifitas terhadap perubahan Politic - Demography - Legal – Environment- Economy- Technology dan Sociocultural memaksa kita membuat business plan yang fleksibel thd perubahan ini.

  5. Companions atau Partnership. Jika kita tidak bisa mengalahkan ”musuh” kita, maka ajaklah ia menjadi ”partner” kita. Krisis ini menuntut tiap perusahaan untuk meningkatkan core competencies, maka penemuan ”teman seperjuangan” adalah hal yang vital.

  6. Coercive groups. Pendekatan terhadap grup-grup penekan ini juga memerlukan keahlian khusus sebab apa yang mereka teriakkan belum tentu sama dengan apa yang mereka inginkan.

Ke 6 langkah diatas, yang disebut sebagai 6C awal, merupakan unsur teknikal di dalam pemilihan strategi bisnis, unsur yang menerapkan scientific management sebagai landasan berpikir.

Gambar 2: Tip of Ice Berg – hanya memperhatikan unsur teknikal.


Kenyataan menunjukkan bahwa kebanyakan para CEO hanya fokus ke bagian atas gunung es [ unsur teknikal ], dan cenderung melupakan bagian bawahnya [ unsur human-social ] yang justru memegang peranan penting, karena ujung-ujungnya implementasi di lapangan tetap harus dilakukan oleh manusia. Secara empiris, 70-80% masalah di lapangan disebabkan oleh manusia. Ada 6 langkah pendukung ( unsur human – social ) yang dapat diambil untuk meminimalkan masalah diatas, yakni faktor:

  1. Connections. Jika kita membaca textbook barat , tidak pernah ditemukan informasi mengenai pentingnya connections ini . Tetapi bagi pebisnis tulen tahu persis peranan connections ini dalam mempermudah jalannya bisnis.

  2. Corporate culture , values dan leadership yang dapat membantu mempertajam strategi.

  3. Communication. Jika dilaksanakan dengan baik akan mengurangi beda persepsi.

  4. Commitment. Ini yang paling susah didapat. Solusinya : perlu kejelasan, kepemimpinan dan partisipasi anggota tim.

  5. Coordination untuk meningkatkan sinergi.

  6. Corporate responsibility.

Agar tidak gampang lupa, ingat saja: 6C2 - Ice Berg Strategy - yang merupakan perpaduan antara unsur teknikal dan unsur human –social. Perpaduan antara pemikiran rasional Barat dan kebijaksanaan Timur yang menghendaki harmonisasi dengan sesama.

Salah satu perusahaan Indonesia yang menerapkan 6C2 di Indonesia adalah Astra. Perusahaan ini tidak semata-mata memfokuskan pada unsur teknikal saja, tetapi unsur human-social juga diberi penekanan khusus. Tidak heran walau badai menerpa, saham-saham Astra masih diminati.

Semua unsur-unsur diatas, jika dirangkumkan dan dilaksanakan sepenuh hati, memberikan pedoman yang sangat jelas kepada para pebisnis untuk tetap dapat selamat di kondisi global krisis ini.

 

Bagaimana pendapat anda?

Penulis adalah konsultan bisnis di Get Real Asia. Dapat dihubungi di This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it



 

 

 

Add comment